kawasan wisata kopeng

Perjalanan Wisata Berbekal “Mboten”

Sebenarnya tidak ada niat khusus kami menyambangi taman wisata yang berada di daerah pegunungan ini. Ada dua hal yang menjadi penyebabnya. 

Pertama, kami telah mengunjunginya beberapa waktu yang lalu. Kedua, selain hawa sejuk, tempat wisata ini tidak menawarkan sesuatu yang khusus dan membikin kangen untuk kembali berkunjung.

Namun karena kebetulan pada hari Minggu kemarin kami melewati dataran tinggi ini, dan kami memiliki waktu yang cukup longgar, mampirlah kami ke sana. Berdasarkan pengalaman kunjungan kami sebelumnya, kami telah menyiapkan bekal khusus untuk menuju ke sana.

Bekal yang kami bawa bukan berupa makanan, minuman atau perlengkapan rekreasi ke daerah sejuk semacam jaket atau tikar. Yang kami butuhkan sebatas kata-kata. Kata-kata? Ya, dan lebih tepatnya sebuah kata.

Senjata Andalan

Bagi kami, tawaran paling menggiurkan yang disodorkan Taman Wisata Kopeng yang berlokasi di daerah perbatasan antara Kabupaten Salatiga dan Kabupaten Magelang di Jawa Tengah itu adalah duduk termenung atau ngobrol kecil di tengah hawa sejuk dan suasana tenang. Namun bayangan semacam itu sulit didapatkan di tempat ini.

Semenjak kaki kami mulai menginjak tanah di tempat parkir, “horor” mulai menyerbu kami. Mula-mula yang mendatangi kami adalah seorang laki-laki yang saya taksir berusia di atas 60 tahun. Ia memegang seutas pecut alias cambuk.

Jangan terburu gemetar, ya. Laki-laki itu tidak bermaksud jahat kepada pengunjung dengan cambuk yang dipegangnya. Ia hanya menawarkan– terutama kepada anak-anak–untuk menunggang kuda keliling taman wisata.

Namun ia memang bisa berubah menjadi semacam gangguan kenyamanan bagi pengunjung jika terus menguntit dan menawarkan jasanya dengan berbagai macam rayuan. Maka, sesuai strategi yang telah kami rencanakan, kami berlalu saja dari hadapannya. Ketika sang lelaki tak berhenti berupaya memikat hati kami, kami mengeluarkan “senjata pamungkas” kami.

“Mboten, Pak.” Dan laki-laki itu segera beralih mencari “mangsa” yang lain.

“Mboten” adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa halus yang berarti “tidak”. Dan kata “mboten” yang barusan kami lontarkan merupakan sebuah pembuka. Sebab, kata yang satu ini bakal sering terlontar dari mulut kami selama kami berada di area tamasya ini.

Benar saja, belum berselang dua menit terlepas dari “gangguan” pertama, yang kedua segera nongol di hadapan kami. Kali ini seorang ibu-ibu sekira lima puluhan usianya. Berbekal selembar kertas menu, ia segera menjalankan aksinya.

“Monggo dhahar mendoane, Mas. Tasih anget, Mas. Atau ngersakaken sate ayam nopo sate kelinci.”

Sang ibu mulai menjajakan aneka makanan yang banyak ditawarkan orang di lokasi ini. Antara lain, ia menyodorkan mendoan, makanan terbuat dari bahan tempe khas daerah Banyumas dan sangat familiar di hampir seluruh daerah di provinsi Jawa Tengah. Ia juga mengunjukkan sate ayam dan sate kelinci.

Karena kami baru tiba, bermaksud akan berkeliling taman dan belum ingin makan, kami segera melontarkan “mboten” yang kedua, “Mboten, Bu.”

“Mbak, bisa duduk-duduk di tikar juga, lho. Nanti bisa pilih-pilih tempat yang nyaman.”

Sang ibu tak mudah menyerah. Ia mengalihkan rayuannya kepada istri saya. Tak lupa ia menawarkan sebentuk kenyamanan dalam wujud tikar.

Kali ini, “mboten” ketiga meluncur dalam logat Sumatra. Istri saya yang berasal dari ujung pulau Sumatra telah belajar mengucapkan kosa kata ini sejak sebelum menaiki mobil.

Sesuai perkiraan kami, “mboten–mboten” berikutnya harus kerap terucap dari bibir-bibir kami. Baik ketika kami sedang berjalan-jalan menyusuri taman maupun ketika kami telah mendapatkan posisi strategis untuk sekadar menyelonjorkan kaki. Yang paling banyak ditawarkan adalah mendoan, sate ayam dan sate kelinci. Ketiganya merupakan jenis makanan yang berserak di kawasan Kopeng.

Maka, seperti yang telah saya katakan di awal tulisan, sulit mencari suasana tenang di tempat tinggi dan sejuk ini. Apalagi dalam masa liburan panjang seperti waktu kami berkunjung kemarin. Kali ini jumlah pengunjung beberapa kali lipat dibandingkan waktu kunjungan kami sebelumnya.

Meskipun tidak melakukan penghitungan secara cermat, saya memperkirakan bahwa pada hari itu kami mengobral kata “mboten” hingga puluhan kali. 

Kata “mboten” terakhir kami luncurkan menjelang kami memasuki mobil di area parkir. Kali ini bukan tukang kuda penyebabnya, melainkan nenek-nenek penjual sayuran. Sepertinya para pedagang telah mempelajari segmentasi pasar secara sederhana, dagangan apa yang pas ditawarkan ketika pengunjung datang dan barang apa yang cocok diajukan saat mereka hendak pulang.

Tempo hari, kami tak kuasa mem-“mboten“-kan nenek-nenek yang mengadang kami di dekat mobil. Akibatnya, beberapa jenis sayuran membusuk di rumah karena istri saya tak sempat memasaknya.

Pengelolaan Wisata Tradisional


Seperti kebanyakan lokasi wisata alam lainnya, Taman Wisata Kopeng juga berada di daerah pedesaan. Ia menjadi salah satu andalan warga sekitar untuk mengais uang. Selain berjualan aneka makanan dan minuman, sebagian yang lainnya berdagang sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, dan ada juga yang menjajakan mainan anak-anak.

Beberapa lapak telah didirikan di seputar lokasi wisata ini. Namun, model pemasaran door to door tetap sangat diandalkan untuk menjaring pembeli.

Pada satu sisi, cara menggaet pembeli semacam ini cukup mengganggu. Namun adakalanya justru bisa menjadi daya tarik tersendiri. Orang-orang kota yang telah jarang bercengkerama dengan warga sekelilingnya bisa mendapatkan kesempatan berkomunikasi dengan orang-orang desa yang umumnya masih ramah.

Di luar segelintir penjual yang terkesan agak memaksa, sebagian besar segera berlalu dengan sopan setelah kita gunakan senjata “mboten” secara bijak. Biasanya mereka sedikit membungkukkan badan atau menganggukkan kepala sembari mengucap, “Nggih.” Sebuah cara memahami yang cukup halus khas warga pedesaan di Jawa Tengah.

Taman Wisata Kopeng menyajikan beberapa wahana rekreasi bagi pengunjung. Ada kegiatan menunggang kuda berkeliling taman wisata, ada “petualangan” dengan mobil mini atau lebih dikenal sebagai ATV, outbond sederhana, paintball dan kolam renang. Beberapa wahana yang telah kami jajal rata-rata berbiaya Rp 20.000,- per orang.

Selain itu, tempat wisata ini juga menyediakan musala dan beberapa tempat makan serta sentra penjualan tanaman hias. Jika ingin membeli tanaman hias di sana, sebaiknya diyakinkan bahwa kondisi cuaca di lokasi tanam sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kami telah mendapatkan pengalaman beberapa tanaman tidak cocok ditanam di dataran rendah.

Sebagai sebuah bentuk kepedulian, saya menyampaikan beberapa alternatif yang mungkin bisa diterapkan untuk mengurangi ketidaknyamanan wisatawan yang berdatangan ke lokasi wisata ini. Utamanya terkait dengan kebiasaan pedagang menjajakan dagangannya.

Pertama, jika memungkinkan para pedagang ditempatkan di lapak-lapak yang diatur sedemikian rupa sehingga terlihat oleh pengunjung. Pada lapak-lapak itu dicantumkan jenis-jenis barang dagangan disertai harganya. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengunjung yang hendak singgah.

Kedua, sediakan lokasi khusus yang nyaman dan tidak didatangi penjaja makanan atau barang lainnya. Tempat seperti ini sangat cocok bagi wisatawan yang bermaksud mencari ketenangan.

Ketiga, berikan pengawasan dan pembinaan yang lebih mendalam dan terus-terus bagi para pedagang untuk tetap menjaga sikap yang baik dan sopan, dan terutama tidak menguntit pengunjung dan memaksa untuk membeli dagangan mereka.

Bagi saya, bentuk interaksi antara pedagang dan pengunjung seperti yang terjadi di Kopeng tidak perlu dihilangkan. Hal ini akan menjadi salah satu pembeda antara lokasi wisata tradisional dengan lokasi yang telah benar-benar bersifat komersial. Hanya saja, mereka perlu menjaga batas-batas yang wajar agar tidak sampai mengganggu dan membuat risi wisatawan.

Sepulang dari taman wisata ini, kami menyempatkan diri mampir di pasar yang berjarak beberapa ratus meter dari taman wisata ke arah Salatiga. Kami hanya membeli beberapa ikat sayuran dan beberapa kilo buah-buahan sebagai buah tangan.

Seperti juga di taman wisata, di pasar ini kembali kami harus melontarkan sejumlah kata “mboten” kepada penjual tahu asin, jagung rebus dan ampyang. Juga kepada penjual mainan yang “membidik” anak kami sebagai sasaran. Sepertinya cara berdagang model ini berlaku di banyak tempat wisata, juga di tempat-tempat lainnya.

Konten ini telah ditayangkan di Kompasiana tanggal 1 Januari 2020 dengan judul “Perjalanan Wisata Berbekal ‘Mboten’“.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *